Rabu, 16 Oktober 2013

Daftar Resmi Skuad CLS Knights Musim 2013-2014

CLS Knights Surabaya

Coaching & Team Staff
1. Ferry ( General Manager)
2. Asep Nugroho (Asisten Manager)
3. Kim Dong Won (Pelatih)
4. Andre Yuwadi ( Asisten Pelatih)
5. Abdul Jabar Al Hayyan (Medis/Dokter Klub)
6. Ganang Ari Dwiantoro (Referee)

Player
#0 : Jeffry Bong (SG)
#2 : Dwi Haryoko (PF)
#5 : Mario Wusyang (PG)
#6 : Dian Heryadi (C)
#8 : Wijaya Saputra (SG)
#9 : Sandy Febiansyakh (SF)
#10: Febri Utomo (SF)
#11: Arif Hidayat (PG)*
#12: Tony Agus (PF)
#13: Ernest Koswara (SG)
#17: Dimaz Muhhari (PG)
#23: Agung Sunarko (PG)\
#31: Andrie Ekayana Satya Santosa (SF)
#32: Herman (C)
#39: Okky Arista (SG)*
#88: A.A. Ngurah Wisnu Budidharma (SG)
#90: Achmad Syarif (PF)*

*Rookie


CLS Makin Siap Juara

 
 
Punya Backcourt Terbaik di Indonesia, Hari Ini Tryout ke Korsel
SURABAYA - CLS Knights Surabaya melakukan gebrakan penting sebelum musim pertama Speedy NBL Indonesia 2013-2014 bergulir. Runner-up Speedy NBL Indonesia Preseason Tournament 2013 tersebut sukses mengikat salah seorang point guard terbaik Indonesia Mario Wuysang.

Sejatinya CLS memiliki stok point guard menumpuk. Di sana ada top steal musim lalu Dimaz Muharri. Ada pula pemain muda berbakat AA Ngurah Wisnu, rookie hebat Arif Hidayat, dan playmaker senior Agung Sunarko.

Di sisi lain, CLS sejatinya masih belum mantap di posisi big man. Hanya kapten Dwi Haryoko yang betul-betul siap bertarung di level tertinggi.

Setelah kalah dengan margin sebelas poin (54-65) melawan Pelita Jaya-Energi MP Jakarta pada final preseason tournament 2013 lalu, CLS melakukan evaluasi. Kim Dong-won, pelatih baru CLS asal Korea Selatan, mengatakan bahwa timnya masih membutuhkan sosok point guard andal.

Memang, di preseason terlihat jelas bahwa CLS sangat bergantung kepada Dimaz. Apalagi, filosofi permainan Mr Kim -panggilan Kim Dong-won- ialah bermain cepat dengan double point guard. Artinya, sebanyak mungkin playmaker berkualitas sangat dibutuhkan oleh CLS.

Kombinasi Roe -panggilan Mario Wuysang- bersama Dimaz dan shooting guard Andrie Ekayana bakal membuat CLS memiliki salah satu barisan backcourt terbaik di Indonesia.

''Setelah preseason, kami ada diskusi. Manajemen bertanya, Mr Kim membutuhkan apa lagi. Salah satunya, memang point guard,'' ucap Christopher J. Tanuwidjaja, owner CLS, kemarin (12/10).

''Agak pusing sih (cari point guard bagus). Namun, tiba-tiba saja ada yang memberikan kabar bahwa Mario Wuysang free agent. Kami coba ngomong. Memang ada ketertarikan karena Mario pernah bekerja sama dengan Mr Kim (di Aspac Jakarta). Saya sendiri kaget, (prosesnya) cepat sekali,'' imbuh Chistopher.

Bergabungnya Mario membuat CLS semakin diperhitungkan sebagai kandidat kuat juara NBL Indonesia 2013-2014. Tiga musim sebelumnya Dwi Haryoko dkk memang gagal untuk menggamit gelar.

Asisten pelatih CLS Andre Yuwadi mengatakan, persiapan timnya semakin serius musim ini. Sore ini seluruh tim akan bertolak ke Korea Selatan untuk menjalani rangkaian uji coba. Di Negeri Ginseng -julukan Korsel- CLS akan menjalani lima sampai enam pertandingan hingga 23 Oktober mendatang.

''Mr Kim kan orang Korea dengan (mengusung) gaya main Korea yang dikombinasikan dengan gaya Indonesia. Dengan tryout ini, semoga kami lebih siap di NBL nanti,'' ucap Andre.

Andre mengatakan belum ingin berbicara soal Mario dulu. Namun, kehadiran pemain kelahiran Sidoarjo yang besar di Amerika Serikat itu akan membuat pola offense CLS semakin variatif.

''Dengan head coach baru, kami memang akan kembali melakukan pengenalan di antara pemain. Kami akan berfokus kepada chemistry. Sebab, di preseason, chemistry kami masih kurang,'' ucap Andre.

Mario sendiri tidak akan dibawa ke Korsel. Sebab, waktu antara tanda tangan kontrak dan rencana tim ke Korsel sangat mepet. Alhasil, Mario tidak bisa mendapat visa.

Di konfirmasi secara terpisah, Mario menolak memberikan banyak keterangan. ''Saya gembira bisa kembali ke NBL. Namun, saya belum bisa bicara banyak. Mungkin pekan depan saya bisa cerita,'' ucap mantan pemain Indonesia Warriors, Garuda Bandung, dan Aspac Jakarta itu. (nur/c4/ham)

Story Provided by Jawa Pos

Jadi Salah Satu yang Termahal



DENGAN skill dan kebintangannya, kehadiran Mario Wuysang akan membuat Speedy NBL Indonesia 2013-2014 semakin semarak. NBL yang berjalan dengan sangat ketat pada tiga musim sebelumnya bakal semakin sengit. CLS yang menjadi finalis musim pertama 2010-2011 pada musim ini layak kembali dijagokan untuk merebut gelar juara.

Mendatangkan pemain sekaliber Mario tentu saja bukan persoalan yang mudah dan murah bagi CLS. Kabarnya, dia diikat dengan kontrak mencapai ratusan juta rupiah. Itu belum termasuk bayaran per bulannya yang mencapai Rp 25 juta. Mario menjadi salah seorang pemain termahal di NBL.

Sayang, Mario tak bisa dikonfirmasi tentang kontraknya ke CLS. Pesan singkat dan telepon ke nomornya tak dijawab.

Vice Managing Director Indonesia Sport Venture Rudolf Tulus menolak anggapan bahwa Mario pergi ke CLS karena mendapatkan uang lebih banyak. Banyak alasan lain yang lebih mendorong Mario untuk hijrah ke klub kebanggaan Surabaya itu.

"Mungkin dia ingin minute play yang lebih banyak. Bisa jadi dia ingin dekat dengan Mr Kim yang bekas pelatihnya di Aspac dulu," kata Rudolf. "Atau, bisa jadi dia ingin dekat ke fans di Surabaya. Surabaya itu sekarang kan ibu kota basket Indonesia. Kalau soal nominal, saya tidak tahu. Tanya saja ke CLS," ujarnya. (aga/c11/ang)
 
Story Provided by Jawa Pos

Selamat Datang, Roe!



SM Konfirmasi Mario Wuysang Dikontrak CLS 

SURABAYA - Penantian panjang para fans Speedy NBL Indonesia akhirnya terjawab. Mereka segera bisa menyaksikan aksi salah seorang point guard terbaik Indonesia, Mario Wuysang.

Roe, panggilannya, untuk kali pertama akan tampil di musim reguler NBL Indonesia. Dia akan membela CLS Knights Surabaya mulai seri pertama regular season pada 16-24 November mendatang.

Small forward CLS Andrie Ekayana yang merupakan teman dekat Roe ketika di Aspac pada 2005-2008 adalah salah seorang yang mengungkapkan kepastian tentang bakal kembalinya sang bintang. ''Tadi sore (kemarin, Red) Roe nge-whatsapp saya. Dia bilang, semuanya sudah beres. Kita sekarang teamate lagi,'' kata Yayan, panggilan Andrie Ekayana.

Sayang, tidak ada seorang pun perwakilan manajemen CLS yang mau dimintai komentar soal Roe. Namun, konfirmasi datang dari pihak Indonesia Sport Venture yang menaungi Satria Muda dan Indonesia Warriors yang sebelumnya dibela Roe. Dia sejatinya terikat kontrak dengan tim itu sampai akhir tahun ini.

''CLS mengajukan penawaran ke Mario dan dia setuju. Ini persoalan profesional saja. Kami tidak bisa menghalangi pemain yang ingin pindah. Tawaran CLS memang lebih baik. Tapi, lebih baik itu kan tidak hanya soal nominal,'' kata Vice Managing Director Indonesia Sport Venture Rudolf Tulus kemarin.

Roe selama ini selalu disebut sebagai salah seorang point guard dan bintang terbesar basket Indonesia. Pemain kelahiran Sidoarjo itu mengembangkan skill basket di Amerika Serikat (AS) sejak usia 12 tahun. Saat masih duduk di bangku SMA, dia sempat menjuarai turnamen basket di negara bagian Indiana.

Dia pulang ke Indonesia pada 2000 dan bergabung dengan klub Aspac. Dia berhasil membawa timnya menjadi juara IBL pada 2003 dan 2005. Sejak 2003 pula, Roe menjadi langganan timnas.

Setelah dari Aspac, dia bergabung ke Garuda. Pemain pelontos tersebut sempat tampil di preseason tournament NBL Indonesia pada 2010 di Malang. Ketika itu Roe adalah salah seorang bintang yang paling ditunggu aksinya di musim reguler.

Namun, saat kompetisi reguler NBL hendak berlangsung, dia pindah ke Satria Muda yang tampil di Asean Basketball League (ABL) kemudian berganti nama menjadi Indonesia Warrior (IW). Dia ditukar dengan Wendha Wijaya yang kini menjadi tulang punggung Garuda Kukar Bandung.

Bergabungnya Roe bakal menjadikan CLS sebagai tim dengan komposisi guard yang mengerikan. Sebelum kedatangan Roe, di sana sudah ada point guard jempolan macam Dimaz Muharri dan rookie Arif Hidayat.

CLS juga semakin leluasa memainkan strategi yang menjadi favorit coach Kim Dong Won dengan dobel point guard. Apalagi, Mr Kim, sapaan Kim Dong Won, bukan merupakan figur asing bagi Roe. Mereka sempat bersama saat Mr Kim melatih Aspac.

Jalan Mario Wuysang Menuju NBL

Periode Belajar

Sejak usia 12 tahun, Mario yang lahir pada 5 Mei 1979 tinggal di Amerika Serikat. Pada 1997 dia bermain untuk tim SMA di sana, yaitu Bloomington North Cougars. Dua tahun berikutnya, pada 1999, dia tampil di NCAA Divisi 2.

Di Aspac saat Kembali ke Tanah Air

Pemain yang akrap disapa Roe ini menjalani debut profesionalnya bersama Aspac pada 2000. Pada 2003 dia mampu mengantarkan Aspac menjadi yang terbaik di Indonesia. Penampilan memukau Mario juga membuatnya menjadi langganan timnas sejak 2003. Pada 2005 dia kembali mengantarkan Aspac menjadi juara.

Tinggalkan Aspac, Gabung Garuda

Bertahun-tahun bersama Aspac, Mario akhirnya mencari tantangan baru. Pilihannya adalah Garuda sejak 2008. Roe mengantarkan Garuda sebagai salah satu tim papan atas tanah air.

Jelang Era NBL

Menjelang era baru NBL pada 2010, Mario adalah salah seorang pemain yang paling bersemangat menyambut liga baru. Undangan apa pun yang terkait dengan promo NBL dia datangi. Termasuk ketika diundang dalam coaching clinic maupun acara NBA Madness yang diselenggarakan PT DBL Indonesia selaku pengelola NBL.

Di-Trade ke Satria Muda dan Tampil di ABL

Mario Wuysang batal tampil di NBL. Dia hanya membela Garuda pada turnamen pemanasan NBL pada 2010. Menjelang musim reguler NBL, dia di-trade ke Satria Muda. Garuda mendapatkan Wendha Wijaya dalam pertukaran itu.

Mario diturunkan di ASEAN Basketball League (ABL) dengan bendera Indonesia Warriors (IW). Selama 2010-2013, dia mengantarkan IW merebut satu gelar ABL dan dua kali masuk final.

Gabung CLS

Sejak awal Oktober melalui akun Twitter-nya, @m_wuysang2, Mario memberikan tanda-tanda bakal pindah klub. Dari kicauannya, CLS tersirat akan menjadi klub baru baginya. Kemarin (11/10) dikonfirmasikan Mario akan membela CLS. (aga/c11/ang)

Story Provided by Jawa Pos

Matang Dulu di Kampus, Baru ke Profesional

 
 
Arif Hidayat, Salah Seorang Rookie Paling Bersinar di PreseasonTournament 
 
Speedy NBL Indonesia Preseason Tournament 2013 menjadi ajang unjuk gigi pemain debutan alias rookie. Arif Hidayat adalah salah seorang yang langsung bersinar.

Ainur Rohman, Surabaya

---

Arif Hidayat adalah nama besar di Development Basketball League (dulu DetEksi Basketball League). Saat masih menjadi siswa di SMAN 2 Jember, dua kali Arif masuk DBL Indonesia All-Star. Yakni, pada 2008 dan 2009. Arif berkesempatan untuk belajar, berlatih, dan bermain di Australia.

Selain karena kehebatannya di lapangan, kisah Arif di luar lapangan juga menarik. Saat berkompetisi di Honda DBL 2008 East Java wilayah South, karena keterbatasan dana, tim SMAN 2 Jember harus berangkat ke Malang dengan menumpang truk. Jawa Pos bahkan menjuluki SMAN 2 Jember dengan ''Team Truck''. Arif adalah kapten tim itu.

Lepas dari SMA, pada 2010, Arif bergabung dengan CLS Knights Junior sembari berkuliah di Universitas Surabaya (Ubaya). Prestasi Arif bagus. Selama tiga tahun berkiprah di Ubaya, Arif berhasil membantu tim itu juara Campus League 2013.

Arif termasuk telat berkiprah di Speedy NBL Indonesia. Tiga rekan setimnya di Ubaya, Ernest Koswara, Adrian Bintoro, dan A.A. Ngurah Wisnu, lebih dulu bermain untuk CLS. Arif baru melangkah ke kancah profesional musim ini.

Preseason Tournament 2013 menjadi debut Arif di kancah profesional. Namun, berbeda dengan teman-temannya, Arif langsung melesat. Dia mendapatkan kepercayaan dari pelatih baru CLS asal Korea Selatan Kim Dong-won untuk menjadi starter.

Arif yang berdampingan dengan bintang CLS Dimaz Muharri membentuk skema double point guard. Bersama CLS, statistik Arif lumayan. Sebelum pertandingan final, Arif mencetak rata-rata 7,83 poin per game, nomor tiga terproduktif dalam urusan mencetak angka untuk rookie.

Untuk urusan assist, Arif menempati posisi ketiga di CLS setelah Dimaz Muharri dan Andrie Ekayana dengan 2,33 assist per game. Di antara semua rookie, itu catatan assist terbaik. Karena penampilan yang konsisten, Arif menggusur posisi Wijaya Saputra, starter musim lalu.

''Saat menjadi starter, saya berusaha untuk tidak terbebani. Saya merasa senang karena diberi kepercayaan oleh pelatih,'' ucap Arif. ''Saya rasa tahun ini adalah tahun yang pas. Sebab, karir saya berjenjang. Mulai SMA, kuliah, hingga ke profesional. Jadi, ini memang pas. Saya pikir ini bagus,'' imbuhnya.

Selain Arif, rookie yang mencuri perhatian adalah Januar Kuntara asal Satya Wacana LBC Metro Bandung. Januar menjadi rookie dengan rata-rata poin terbaik yang mencapai 9,60 poin per game. Sama dengan Arif, Januar matang di kampus.

Dia menjadi pemain kunci Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB) Bandung ketika menjadi juara Liga Mahasiswa 2013. Januar juga kapten tim Jawa Barat yang meraih emas PON 2012 Riau.

''Sebelum main profesional, saya memang harus berpengalaman di kampus dulu. Di tim ini, kami masih mencoba membangun chemistry karena latihan masih minim,'' kata Januar.

Rookie yang juga legendaris di ITHB adalah Kaleb Ramot Gemilang. Namun, Kaleb masih belum turun di NBL Indonesia karena masuk Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) SEA Games 2013. Musim ini Kaleb meneruskan kebersamaannya dengan Januar di Satya Wacana. (*/c17/ang)

Story Provided by Jawa Pos

Final Keempat dalam Empat Tahun







SURABAYA - CLS Knights Surabaya benar - benar menjadi tim spesialis Speedy NBL Indonesia preseason tournament. Dalam empat tahun mereka empat kali menembus babak final.

CLS melangkah ke final karena semalam mengalahkan juara NBL Indonesia 2012-2013 Dell Aspac Jakarta dengan skor 63-60 di depan ribuan pendukungnya di DBL Arena Surabaya.

Pada babak final malam ini, CLS akan berhadapan dengan tim kuat Pelita Jaya (PJ) Energi-MP Jakarta. Pada semifinal pertama, PJ mengempaskan perlawanan Satria Muda (SM) Britama Jakarta dengan skor 67-63.

Pada awal pertandingan, CLS bermain cukup nyaman. Mereka mendominasi Aspac yang tidak diperkuat lima pemain pentingnya musim lalu. CLS bahkan sempat unggul 11 poin pada awal kuarter terakhir.

Namun, Aspac tidak menyerah. Saat pertandingan menyisakan 2 menit dan 26 detik, dua free throw guard Handri Satrya Santosa membuat Aspac membalik kedudukan menjadi 56-55.

Dalam kondisi tertekan, CLS ternyata mampu bangkit. Point guard utama Dimaz Muharri menjadi pahlawan utama. Dia melakukan apa saja. Mulai steal, rebound, dan puncaknya mencetak empat poin mulai game menyisakan 1 menit hingga waktu tinggal 23 detik. Hanya beristirahat selama 46 detik, Dimaz menjadi top scorer timnya dengan 16 poin.

Aspac yang kehilangan momentum tak bisa melakukan apa pun. Tembakan jarak jauh guard Rizky Effendi gagal membuat Aspac menyamakan kedudukan menjadi 63-63 tepat pada akhir pertandingan.

"Aspac bermain bagus. Ingat, mereka tidak diperkuat dua pemain nasionalnya. Saya senang dengan performa pemain. Mereka sangat fokus dan semangat meski dalam kondisi tertekan," ucap Kim Dong-won, pelatih CLS asal Korea Selatan, setelah pertandingan.

Kondisi yang sama dialami PJ saat berhadapan dengan SM. PJ yang unggul hingga 17 angka pada kuarter kedua seolah tertidur pada dua kuarter akhir. SM berhasil memperpendek jarak menjadi hanya satu poin saat game menyisakan tiga menit.

"Saya katakan kepada pemain, waktu 3 menit itu masih lama dalam basket. Apalagi, kami masih unggul satu poin. Akhirnya, kami bisa mengontrol pertandingan," kata Nathaniel Canson, pelatih PJ.

"Kami menang bukan karena beruntung. Kami memang layak menang. Ini kemenangan yang sangat besar bagi kami," imbuh pelatih kelahiran Makati, Filipina, tersebut.

Bintang utama PJ, Andy "Batam" Poedjakesuma, menjadi top scorer dengan 19 poin. Sebanyak 17 angka dia ciptakan pada dua kuarter awal. Batam yang pada November mendatang berusia 33 tahun tersebut masih membuktikan diri sebagai salah satu shooter terbaik Indonesia.

"Bermain basket itu jangan setengah-setengah. Meski sudah tua, passion saya masih ada di basket. Dulu ada jargon I Love This Game itu betul. Harus benar-benar mencintai permainan," tegasnya.

Story Provided by Jawa Pos

Selasa, 20 Agustus 2013

Depak Coach Dong, CLS Kontrak Mr Kim


SURABAYA - Eduard Santos Vergeire harus membayar mahal kegagalannya mengantarkan CLS Knights menjadi juara NBL Indonesia 2012-2013. Kemarin (30/7) tim basket kebanggaan Surabaya itu mengumumkan tidak akan menggunakan lagi tenaga pelatih asal Filipina tersebut di NBL musim 2013-2014.
Sebagai ganti, CLS mengontrak pelatih asal Korea Selatan Kim Dong-wong. Pelatih yang akrab disapa Mr Kim itu dikontrak CLS selama setahun.

''Ya, sudah resmi. Kami sekarang mengurus izin kerjanya,'' kata General Manajer CLS Ferry.

Keputusan CLS merekrut pelatih baru untuk musim 2013-2014 melanjutkan tradisi mereka mendatangkan coach baru setiap pergantian musim. Mr Kim akan menjadi pelatih keempat CLS di musim keempat NBL.

Pada musim 2010-2011, CLS ditangani Wan Amran. Semusim berikutnya Risdianto Roeslan menggantikan Amran yang hengkang ke Garuda Kukar Bandung. Musim lalu CLS diarsiteki Coach Dong -panggilan Eduard Santos Vergeire.

Ferry mengungkapkan, pergantian pelatih dilakukan karena Coach Dong gagal memenuhi target manajemen, yakni juara. Prestasi CLS juga stagnan. Coach Dong hanya mampu membawa CLS finis di peringkat keempat klasemen musim reguler 2012-2013, hanya naik satu tingkat dari musim sebelumnya.

Sejatinya, Coach Dong dikontrak CLS dua tahun. Namun, CLS memiliki opsi untuk me-review kontrak Coach Dong jika tidak mencapai target yang dibebankan. ''Saya kira Mr Kim akan cocok dengan karakter CLS. Dan saya berharap, dia bisa memenuhi target CLS, yakni menjadi juara,'' tegas Ferry.

Mr Kim bukan nama asing bagi CLS. Pada musim 2010-2011, dia pernah menjadi technical advisor, mendampingi Wan Amran. Dia juga pernah diisukan bakal menjadi pelatih pengganti Amran pada 2011. Namun, akhirnya batal. Jauh sebelumnya, pada awal 1990-an, Mr Kim sudah berkiprah di Indonesia dengan menjadi pelatih Aspac Jakarta.

Pemain senior CLS Andrie Ekayana mengatakan sangat antusias dengan kehadiran Mr Kim. Pemain berusia 31 tahun tersebut menuturkan bahwa Mr Kim adalah pelatih yang sangat detail dalam pola defense maupun offense.

Yayan -panggilan Ekayana- pernah merasakan tangan dingin Mr Kim saat berbaju Aspac Jakarta pada 2006. Sebelumnya, pada akhir 1990-an, Yayan juga sempat dilatih Mr Kim ketika berada di tim junior Bimasakti Nikko Steel Malang. ''Saya berharap, Mr Kim bisa menyatukan kami sebagai sebuah kesatuan dalam tim,'' tandas pemain kelahiran Malang itu. (nur/c4/ang)